Biara tampak depan

Suster-suster kami di Surabaya membutuhkan tempat untuk memulihkan tenaga, karena iklim di Surabaya sungguh meletihkan. Maka pemimpin biara Darmo, yaitu Suster Hedwig Schultes dengan beberapa suster lain pergi mencari tempat yang cocok.

Pada tanggal 15 Mei 1928 mereka tiba di Pacet, suatu desa di lereng gunung api Welirang.

Tanah yang Dibeli

Tanggal 25 September 1928 sebidang tanah yang luas dapat dibeli.

Pada tanggal 21 Desember indult (surat ijin) dari Roma diterima dan pembangungan boleh dimulai. Pembangunan dimulai dalam bulan Maret 1929 dibawah perlindungan Santo Jusuf.

Nama Stella Matutina Diberikan

Tanggal 20 April 1939, Monseigneur de Backere memberkati rumah itu. Bangunan itu diberi nama “Stella Matutina”. Sejak saat itu, rumah istirahat itu terus dipakai untuk retraite para suster, romo, murid dan guru.

Pada permulaan perang dengan Jepang, rumah “Stella Matutina” dipakai untuk anak piatu dari Kepanjen. Tetapi tidak lama tinggal di Pacet, karena keadaan amat sulit. Jadi semua anak dipulangkan ke Kepanjen lagi.

Selama perang berlangsung, “Stella Matutina” dipakai sebagai kamp untuk orang-orang Belanda, sampai tentara Jepang menyerah.

Maka Stella Matutina dipergunakan untuk “Sekolah Pendidikan Kepolisian Karesidenan Surabaya”.

Dalam perang kemerdekaan, bulan Maret 1947, tentara kolonial Belanda menyerang “Stella Matutina” dan semua orang lari dari tempat itu.

Diserbu dan Rusak Total

Dalam tahun 1948 “Stella Matutina” diserbu oleh rakyat dan dirusak total. Tanah yang luas diolah kira-kira 25 orang petani.

Walaupun “Stella Matutina” dirusak total, para suster dari Darmo tidak menyerah.

Tanah Dikembalikan

Dalam tahun 1964 seluruh kompleks dengan tanahnya dikembalikan kepada kami. Dalam tahun 1965 “Stella Matutina” mulai dibangun kembali, bahkan ditambah dengan bangunan sederhana untuk SMP Santo Jusuf.

Permulaan tahun 1970 bangunan baru, termasuk SMP, diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Y. Klooster.

Menjadi Bintang Kejora

Nama “Stella Matutina” adalah bahasa Latin. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah Wisma Samadi “Bintang Kejora”.

Sejak tahun itu Wisma Samadi “Bintang Kejora” terbuka untuk semua orang yang ingin mengadakan latihan rohani, seperti orientasi iman, pendalaman iman, dan lain-lain kegiatan rohani.